*KENDARI, sultrakuviral.Com* – Semangat kemandirian energi terus digaungkan di Sulawesi Tenggara. Melalui gerakan “Energi Mandiri Indonesia Berdua”, dua anak muda Kendari menunjukkan bahwa transisi energi bisa dimulai dari rumah, dari desa, dan dari hal yang paling sederhana.
Gerakan ini mengusung konsep kolaborasi. Tidak sendiri, tapi berdua, bergotong royong untuk membangun kemandirian energi di tingkat tapak. Mulai dari pemasangan panel surya atap untuk rumah tangga, pemanfaatan biogas dari kotoran ternak di Konawe, hingga edukasi energi surya portabel di sekolah-sekolah.
“Potensi Sultra sangat besar. Matahari melimpah sepanjang tahun, pesisir kita punya angin, dan peternakan kita bisa jadi sumber biogas. Kalau kita kerjakan berdua, bersama warga, Sultra bisa mandiri energi tanpa harus menunggu,” ujar salah satu inisiator.
Di Desa Wisata di Kabupaten Konawe Selatan, warga kini sudah merasakan manfaatnya. Sebuah rumah percontohan yang menggunakan 100% tenaga surya atap mampu menghidupkan lampu, mengisi daya, dan menyalakan pompa air setiap malam hari.
> “Dulu kalau mati lampu, gelap total. Sekarang sejak pakai tenaga surya, rumah terang terus. Listriknya dari matahari sendiri, jadi tidak bayar lagi,” kata warga setempat.
Program ini juga menyasar generasi muda. Di beberapa SMK dan kampus di Kendari, mahasiswa diajak merakit panel surya mini untuk penerangan kelas dan mengoperasikan turbin angin mikro di wilayah pesisir seperti di Moramo dan Pulau Bokori.
Pemerintah Provinsi Sultra menyambut baik gerakan ini. Kemandirian energi dinilai sejalan dengan visi Sultra yang hijau dan berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang mahal di wilayah kepulauan.
Gerakan Energi Mandiri Indonesia Berdua menargetkan dalam setahun ke depan dapat membentuk 100 rumah mandiri energi di 5 kabupaten di Sultra sebagai percontohan.
*Dari Sultra untuk Indonesia, mandiri energi dimulai dari kita berdua.*













