KENDARI, SULAWESI TENGGARA — SultrakuViral.Com — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite kembali menjadi pemandangan yang sulit dihindari di sejumlah SPBU di Kota Kendari.
Bukan hanya satu atau dua kendaraan. Barisan roda dua dan roda empat terlihat mengular hingga keluar area SPBU dan memanjang ke badan jalan. Kondisi ini membuat masyarakat harus rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM.
Situasi tersebut kembali memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: Apakah Kota Kendari sedang menghadapi persoalan pasokan Pertalite, atau tingginya antrean disebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat?
Laporan sejumlah media lokal pada awal September 2026 menunjukkan antrean panjang terjadi di beberapa SPBU Kendari. Di SPBU Anduonohu, misalnya, konsumen mengeluhkan waktu tunggu yang panjang dan ketidakpastian mendapatkan BBM.
Lebih mencolok lagi, antrean di SPBU Brimob Kendari pada 4 September 2026 dilaporkan mengular hingga hampir satu kilometer. Pengendara bahkan harus bertahan di bawah terik matahari demi mendapatkan Pertalite.
Bukan Sekadar Antrean, Ini Menyangkut Waktu dan Penghasilan Warga
Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja, antrean panjang bukan persoalan sederhana.
Pengemudi ojek online, pedagang, pekerja lapangan hingga masyarakat yang setiap hari menggunakan kendaraan harus kehilangan waktu produktif karena berjam-jam berada dalam antrean.
Ketika BBM sulit diperoleh, pertanyaan berikutnya tentu menyangkut dampaknya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Berapa banyak waktu kerja yang hilang setiap hari akibat antrean BBM?
Dan yang lebih penting, siapa yang harus bertanggung jawab memastikan masyarakat memperoleh BBM subsidi secara mudah, tertib dan tepat sasaran?
Pertamina Sebut Konsumsi Pertalite Meningkat
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi sebelumnya menyebut adanya perubahan pola konsumsi BBM di Sulawesi Tenggara.
Konsumsi Pertalite dilaporkan meningkat sekitar 8,2 persen, sementara konsumsi Pertamax turun sekitar 24,9 persen. Pertamina menyatakan terus melakukan monitoring dan mengoptimalkan distribusi ke SPBU dengan tingkat kebutuhan tinggi.
Artinya, persoalan antrean tidak bisa hanya dilihat dari sisi ketersediaan BBM di SPBU. Perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Namun masyarakat tentu membutuhkan jawaban yang lebih konkret.
Apakah stok Pertalite di Kota Kendari benar-benar aman?
Apakah distribusi ke setiap SPBU sudah sesuai kebutuhan masing-masing wilayah?
Dan apakah kuota Pertalite yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun 2026?
Akankah Antrean Ini Berlanjut Sampai Akhir Tahun?
Inilah kekhawatiran yang mulai muncul di tengah masyarakat.
Jika peningkatan konsumsi terus terjadi sementara pasokan dan distribusi tidak mampu mengimbangi kebutuhan, bukan tidak mungkin antrean panjang kembali terjadi secara berulang.
Namun sampai saat ini belum ada dasar untuk memastikan bahwa kondisi tersebut akan berlangsung hingga akhir tahun.
Karena itu, masyarakat membutuhkan kepastian, bukan sekadar imbauan.
Pemerintah daerah bersama Pertamina diharapkan membuka informasi secara transparan mengenai kondisi stok, kuota, distribusi dan langkah antisipasi menghadapi peningkatan konsumsi Pertalite di Kota Kendari.
Sebab masyarakat tidak ingin setiap hari harus bertanya:
«“Hari ini masih ada Pertalite atau harus antre lagi?”»
Antrean panjang yang terus berulang bukan hanya soal BBM. Ini menyangkut pelayanan publik, kelancaran aktivitas ekonomi, keselamatan pengguna jalan dan kepastian masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kini bola berada di tangan Pertamina dan pemerintah.
Sampai kapan masyarakat Kendari harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan Pertalite?
Apakah ini hanya persoalan distribusi sementara, atau tanda bahwa kebutuhan BBM subsidi di Kendari sudah jauh melampaui pola konsumsi sebelumnya?
Masyarakat menunggu jawaban dan langkah nyata.
SultrakuViral.Com — Tajam, Berimbang, dan Berani Mengungkap Fakta.













